Beriklan di Yunoya! Ingin kontenmu hadir di Yunoya Media?
sputnik

Review Film Sputnik (2020): Teror Alien dari Uni Soviet!

Sejak franchise Alien vakum, beberapa tahun terakhir jarang ada film tentang alien yang ciamik selain Life (2017). Kabar baiknya, kini ada satu lagi film alternatif Alien menjanjikan yang bertajuk Sputnik.

Melihat fakta Sputnik adalah film produksi Rusia, sebagian penonton mungkin langsung skeptis dengan kualitas filmnya. Namun jangan salah dulu guys.

Berkat pengarahan yang mantap dari sutadara debutan Egor Abramenko, Sputnik menjelma jadi film alien yang tak bisa dipandang sebelah mata. Naskah besutan Oleg Malovichko dan Andrei Zolotarev pun berusaha memberikan nilai lebih dari sekedar teror alien yang bersimbah darah.

Kerennya lagi, film ini juga menghadirkan cast yang solid dan tata produksi yang meyakinkan, termasuk dalam merealisasikan alien lewat teknologi CGI.

Baca Juga  Review Shazam! Calon Kesuksesan DCEU Berikutnya Setelah Aquaman!

Berlatar di Uni Soviet tahun 1980-an, alkisah seorang dokter pemberani Tatyana Klimova (Oksana Akinshin) dipanggil Kolonel Semiradov (Fedor Bondarchuk) untuk mengobati kosmonaut Konstantin Veshnyakov (Pyotr Fyodorov), yang selamat dari insiden maut saat mendarat dari luar angkasa.

Dalam prosesnya, ditemukan parasit alien yang hinggap di tubuh Veshnyakov, dan Tatyana harus menemukan cara untuk mengeluarkan makhluk mematikan itu.

Namun kasus Veshnyakov sebenarnya tidak sesederhana itu. Sebab di satu sisi, alien ini memberi kemampuan Veshnyakov untuk beregenerasi dan tetap sehat. Namun di sisi lain, kondisi Veshnyakov akan kritis jika alien dipisahkan dari tubuhnya. Berangkat dari hal itu, proses penanganan kasus Veshnyakov sarat akan ambiguitas moral yang dilematis.

Baca Juga  Review Ant-Man and The Wasp: Salah Satu Film Sekuel Terbaik dari Marvel!

sputnik

Hanya untuk menjaga Veshnyakov tetap hidup, kolonel pun sampai melakukan perbuatan keji dan tidak manusiawi. Lebih parahnya lagi, kolonel juga berambisi mengendalikan alien agar bisa memanfaatkannya sebagai senjata perang. Dan karena kolonel ini adalah orang pragmatis, ia tak peduli apa yang harus dikorbankan selama tujuannya bisa tercapai.

Sikap kolonel yang kejam ini pun ditentang oleh Tatyana yang lebih mengutamakan kemanusiaan di atas segalanya. Namun sayang, film ini kurang memberikan ruang lebih bagi karakter Tatyana untuk berkembang, terutama dalam hal latar belakang dan emosi. Padahal sebagai karakter utama, eksplorasi karakter Tatyana harusnya lebih diperhatikan, agar penonton semakin terpikat dengan perjuangannya menyelamatkan kosmonaut.


Simak lanjutan ulasan Sputnik di halaman kedua, guys!

1 2»
error: Maaf ya