Beriklan di Yunoya! Ingin kontenmu hadir di Yunoya Media?
Mengenal Toxic Masculinity
freepik.com/@freepik

Mengenal Toxic Masculinity: Sebuah Konstruksi Sosial yang Berbahaya

Toxic masculinity merupakan sebuah konstruksi sosial, diciptakan bagi laki-laki untuk berperilaku dengan beberapa cara tertentu. Toxic masculinity mengacu kepada gagasan sempit tentang “kejantanan”. Mari kita mengenal toxic masculinity.

Kejantanan sendiri didefinisikan sebagai yang mendominasi, homophobia, serta agresivitas. Seorang pria harus bertindak tegas dan tidak menunjukkan emosinya, dan juga memiliki konsekuensi buru bagi kesehatan mentalnya.

Melalui laman The New York Times, toxic masculinity adalah bentuk pengajaran diperuntukkan bagi laki-laki bahwa mereka tidak dapat mengekspresikan emosi secara terbuka; bahwa mereka harus tangguh sepanjang waktu, juga selain itu membuat mereka terlihat “feminim” dan lemah.

Ada banyak definisi “toxic masculinity” muncul, baik dalam penelitian maupun pop culture. Sebuah rilisan penelitian berjudul “The Structure of Male Norms” menyatakan bahwasanya toxic masculinity memiliki tiga komponen inti:

  • Toughness (Ketangguhan): Seorang pria harus kuat secara fisik, tidak berperasaan, dan berperilaku agresif. 
  • Anti Feminity: Seorang pria harus menolak apapun itu berbau feminim, seperti menunjukkan emosi ataupun menerima bantuan.
  •  Power (Kekuasaan): Sebuah asumsi bahwa seorang pria harus bekerja untuk mendapatkan kekuasaan dan status (finansial dan sosial), sehingga mereka dapat dihormati oleh orang lain.
Baca Juga  Penggemar Sambal? Ini 5 Sambal Terfavorit di Indonesia!

Lalu, mengapa toxic masculinity itu berbahaya?

Mengenal Toxic Masculinity
foto: theconversation.

Toxic masculinity, sebuah gagasan merujuk kepada bagaimana laki-laki seharusnya bersikap, dan dapat dikatakan menjadi seorang pria —kuat, tangguh, tidak berperasaan, dan agresif — bagaikan pedang bermata dua.

Toxic masculinity terlalu mengglorifikasi kebiasaan tidak sehat. Sebagai contoh, pernyataan “perawatan hanya diperuntukkan untuk perempuan.”

Artinya, laki-laki memperlakukan diri seperti mesin: seperti mengurangi waktu tidur, serta memaksakan diri lebih dari batasan kemampuan fisik, misalnya.

Selain memaksakan diri secara fisik, toxic masculinity mendorong pria untuk enggan pergi ke dokter. Hal ini memiliki dampak yang merugikan bagi seorang anak laki-laki dan pria dewasa ketika gagal memenuhi ekspektasi gender tentang siapa mereka seharusnya.

Rilisan studi pada tahun 2017 menemukan bahwa, pria dengan keyakinan maskulinitas yang kuat, setengah lebih mungkin menerima perawatan pencegahan dibandingkan pria dengan keyakinan maskulinitas moderat. 

Sebuah penelitian pada tahun 2007 menyebutkan, semakin banyak pria menyesuaikan diri dengan norma-norma maskulinitas, semakin besar kemungkinan mereka terlibat dalam perilaku beresiko, seperti minum-minuman keras, menggunakan tembakau, dan menghindari sayuran. Selain itu, mereka cenderung melihat pilihan berisiko merupakan hal normal untuk dilakukan. 

Pedoman dari the American Psychological Association (APA)

Mengenal Toxic Masculinity
foto: CNN

Selama bertahun-tahun, APA mulai menyadari bahwasanya tekanan sosial diperuntukkan kepada pria memberikan konsekuensi buruk bagi per-individu maupun masyarakat.

Untuk pertama kalinya, APA membuat sebuah pedoman praktek psikologis bagaimana cara memperlakukan laki-laki, baik anak-anak maupun dewasa, untuk membantu mengatasi beberapa masalah terkait toxic masculinity. 

Sebuah penelitian dilakukan selama lebih dari 40 tahun menyebutkan, bahwa maskulinitas tradisional memiliki dampak berbahaya secara psikologis. APA juga menyebutkan bahwa mensosialisasikan anak laki-laki untuk menekan emosi mereka menciptakan kerusakan, baik di dalam maupun di luar. 

Pedoman yang dibuat oleh APA digunakan untuk membantu psikolog mendukung pria untuk keluar dari jerat maskulinitas. Karena lebih banyak membawa dampak yang merugikan ketimbang kebaikan.

Nah sudah mengenal toxic masculinity kan? Bagaimana menurutmu?

Baca Juga  7 Tipe Pria Idaman yang Dapat Meluluhkan Hati Wanita!

Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!

x
error: Maaf ya