Tantangan untuk Menjadi Indonesia Inklusif

Masih banyak tantangan agar Indonesia inklusif, salah satunya adalah menghapus stigma negatif dari masyarakat. Stigma negatif soal penyandang disabilitas masih ada di kalangan masyarakat luas, terutama stigma tentang penyandang disabilitas yang tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang sama dengan non-disabilitas.

Penyandang disabilitas juga dinilai kurang produktif, hal ini membuat penyandang disabilitas dipandang sebelah mata. Selain stigma negatif, dari sisi hukum ada juga UU cipta kerja yang bertentangan dengan UU no 8/2016 tentang penyandang disabilitas.

UU cipta kerja masih menggunakan kata cacat yang merupakan kejahatan epistemik. Penyandang cacat masih dianggap sama dengan penyandang disabilitas. Karena penghapusan pasal 27 ayat 2 mengenai UU Bangunan Gedung, membuat para penyandang disabilitas tidak memiliki akomodasi layak di lingkungan pekerjaan. 

Ada baiknya juga bila Indonesia memiliki dana untuk membangun institusi inklusif yang membantu para penyandang non-disabilitas berkembang di lingkungan yang kondusif. Nah, dari sisi masyarakat mungkin lebih kearah menerima dan memahami kondisi difabel dan disabilitas. Janganlah menganggap remeh para penyandang disabilitas karena kondisi mereka.

Hal ini malah justru memperluas segregasi yang lebih mendalam antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas.

Stigma Penyandang Disabilitas oleh para Non-Disabilitas

Membangun Indonesia

Nah, selain segregasi masih ada juga pandangan tentang kualitas yang kurang dari para penyandang disabilitas. Orang awam mempercayai bahwa keterbatasan para penyandang disabilitas membuat mereka menjadi pekerja yang kurang efektif. Seperti yang Ibu Ratna katakan, sebagai aktivis dari Indonesia Inklusi, Indonesia harus berubah sedikit demi sedikit.

Cobalah lihat dari segi kualitas dan kepercayaan, bukan dari kekurangan para penyandang disabilitas. Kebanyakan orang melihat negatifnya dulu daripada positifnya, padahal penyandang disabilitas mampu mengerjakan pekerjaan yang sama dengan non-disabilitas. 

Nah, berikut adalah pendapat dan cara yang dipaparkan oleh para tokoh aktivis dalam membangun Indonesia Inklusi. Yuk, mari kita ikut berkembang dengan pergerakan Indonesia Inklusi! Jangan menutup pikiran dan tetaplah bekerja untuk membangun lingkungan yang kondusif antar non-disabilitas dan penyandang disabilitas.


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Josevina Gaby

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals