Cerita Anime A Silent Voice: Penyesalan Selalu Datang di Akhir


Pernahkah merasa bahwa telah melakukan kesalahan baik tindakan, perkataan atau keputusan yang berakibat penyesalan? Semua orang pasti pernah merasakan itu, dan pahitnya adalah dampak dari apa yang di timbulkan nanti. Seperti Anime A Silent Voice atau Koe no Katachi.

Anime ini diadaptasi dari manga karya Yoshitoki Oima yang mulanya hanya one-shot pada 2008 lalu. Untuk animasinya sendiri, anime movie yang punya judul lain The Shape of Voice ini pun rilis di 2016 termasuk di bioskop Indonesia. Penerbit m&c pun menerbitkan manga ini lho.

Sebetulnya manga ini tidak banyak dan hanya sampai 7 volume saja, namun Kyoto Animation berhasil membuat keseluruhannya menjadi 130 menit melalui garapan movie-nya. Jadi isi ceritanya pun lebih kena dan tidak bertele-tele.

Baca Juga  Bermanfaat, ini 7 Anime Edukatif yang Mencerdaskan Kita!

Awalnya sih sempat menjadi suatu permasalahan ketika manga ini muncul pertama kalinya sehubungan dengan isu bullying di Jepang. Tapi jangan salah, anime movie Koe No Katachi menuai banyak pujian dan makna yang sangat mendalam.

Tentang seseorang yang menyesal akan perbuatannya setelah melakukan bullying terhadap orang yang cacat fisik. Masih sangat relevan terutama untuk di Indonesia sendiri ya. Tidak hanya punya makna mendalam, namun dari segi visualnya pun punya vibes sendu, adem-ayem gitu.

Kalau dilihat sih satu vibes dengan anime movie Kimi No Nawa atau A Whisker Away. Sangat memanjakan mata, terutama di backsound ataupun intro dan outro-nya, sangat pas! penasaran bagaimana kisahnya?

Baca Juga  Rekomendasi 7 Anime Sports Terbaik Sepanjang Masa

Jadi, anime ini menceritakan tentang cowok, Shoya Ishida yang semasa SD dulu kerjaannya bully orang-orang. Termasuk membully salah satu cewek pindahan bernama Shoko Nishimaya, seorang tuna rungu. Parah bukan? tidak hanya cowok itu saja, tapi semua teman si cowok ikut bully Shoko.

Kasihan, sebagai seseorang yang kurang dalam fisik, Shoko selalu sangat berusahan untuk hidup seperti biasa, berkawan, dan ceria. Tapi, murid-murid dan guru saat itu percaya bahwa Shoko adalah sumber masalah dan mengganggu keseimbangan sosial.


Penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya? simak terus halaman berikutnya!


Hanna

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals