Mengenal Delirium, Gejala Baru dari Pasien Terjangkit COVID-19


Akhir-akhir ini, istilah delirium mencuat ke publik dan menjadi perbincangan. Apa itu delirium? Hal ini bukan tanpa alasan, sebuah rilisan studi menyatakan bahwa delirium merupakan salah satu tanda dari mereka terjangkit COVID-19. 

Sebuah studi penelitian dirilis oleh US National Library of Medicine National Institutes of Health menghasilkan bahwasanya delirium menjadi salah satu gejala dari pasien COVID-19. Selain itu, studi juga menemukan gejala delirium ini terjadi khususnya pada kelompok lanjut usia. 

Lalu, apa sih delirium itu sebenarnya?

Apa itu Delirium?

Mengutip tulisan pada laman Healthline, delirium merupakan perubahan mendadak pada otak, sehingga menyebabkan kebingungan mental dan gangguan emosi. Kondisi ini menyebabkan sulit untuk berpikir, mengingat, tidur, terhambatnya fungsi kognitif, dan lain sebagainya. 

Mengutip dari laman verywellmind, delirium berbeda dengan demensia. Demensia merupakan istilah untuk mereka yang mengalami hilang ingatan, bahasa, kemampuan berpikir lainnya sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. 

Sedangkan delirium berkembang secara relatif tiba-tiba dan berpotensi dapat disembuhkan dengan pengobatan medis. Seseorang bisa mengalami delirium saat minum alkohol, pasca operasi, dan lain sebagainya. 

Penyebab delirium

Apa itu Delirium?

Delirium memiliki penyebab tunggal atau beberapa penyebab. Berikut ini merupakan daftar dari penyebab potensial spesifik dari delirium:

  • Kekurangan oksigen (misalnya karena asma)
  • Racun pada otak (paparan karbon monoksida, keracunan sianida)
  • Penyalahgunaan alkohol atau obat
  • Infeksi akut
  • Kurang tidur
  • Anestesi umum
  • Penyakit radang
  • Obat-obatan (beberapa obat dapat menjadi penyebab delirium)
  • Ketidakseimbangan metabolik atau gangguan elektrolit (contoh; natrium rendah)
  • Demam
  • Malnutrisi atau dehidrasi
  • Stroke, serangan jantung, atau cedera parah

Gejala delirium

Apa itu Delirium?

Delirium biasanya terjadi dengan sangat cepat, dalam jangka waktu beberapa jam atau hari. Jika di rumah sakit, mungkin bisa berlangsung hingga seminggu atau lebih, bisa berkembang menjadi koma atau kematian jika tidak ditangani dengan benar. 

Secara umum, delirium memiliki efek pada pikiran, emosi, kontrol otot, dan pola tidur. Selain itu, delirium melibatkan fluktuasi keadaan mental, kebingungan, dan masalah dengan fungsi kognitif yang khas. Gejala khas tersebut seperti:

  • Terdapat penurunan dalam kemampuan persepsi dan sensorik
  • Perubahan pergerakan secara tiba-tiba (menjadi lebih hiperaktif atau lambat)
  • Perubahan siklus tidur (tidur lebih banyak, mudah mengantuk)
  • Kebingungan tentang keberadaan dan waktu
  • Turunnya tingkat konsentrasi (mudah terganggu)
  • Ketidakmampuan mengingat memori beberapa waktu lalu
  • Kesulitan berbicara dan mengatur pikiran
  • Perubahan kepribadian
  • Inkontinensia (sulit menahan buang air kecil)
  • Kesulitan menulis maupun membaca
  • Apati (menjadi tidak acuh)
  • berhalusinasi 

Tipe-tipe dari delirium

Apa itu Delirium?

  • Hyperactive delirium. Merupakan tipe delirium di mana seseorang menjadi sangat waspada dan tidak kooperatif.
  • Hypoactive delirium. Seseorang dengan tipe delirium ini menjadi pasif, kegiatan sehari-hari menjadi tidak terorganisir, dan lebih banyak tidur.
  • Mixed delirium. Merupakan gabungan gejala antara hyperactive delirium dan hypoactive delirium
  • Delirium tremens. Ketika seseorang berusaha untuk berhenti mengkonsumsi alkohol di antara orang-orang yang telah minum alkohol dalam jumlah besar untuk waktu lama.

Pengobatan delirium

Apa itu Delirium?

Pengobatan delirium tergantung dari penyebab dari delirium itu sendiri. Pada kasus para orang dewasa atau lanjut usia, diagnosis akurat penting untuk pengobatan, karena gejala delirium mirip dengan demensia, namun pengobatannya sangat berbeda. 

Antibiotik bisa digunakan untuk infeksi bakteri penyebab gejala delirium. Pada beberapa kasus, dokter akan meminta pasien untuk berhenti mengkonsumsi alkohol atau berhenti minum obat tertentu. 

Selain itu, terdapat beberapa pengobatan delirium lainnya, sebagai berikut: 

  • Inhaler/mesin pernapasan untuk asma berat
  • Antibiotik untuk infeksi bakteri
  • Antidepresan untuk depresi atau agitasi
  • Obat penenang untuk penarikan alkohol
  • Antipsikotik potensi tinggi untuk mengelola agitasi

Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!

Baca Juga  Sabotase dalam Hubungan, Hati-Hati! Banyak Dampak Negatif Menanti

Audy

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals