Adaptasi Hedonis: Alasan Mengapa Manusia Tidak Benar-Benar Merasa Bahagia


Para psikologis mengatakan, ketika seseorang mengalami suatu hal baik—mendapatkan promosi, membeli mobil baru, memenangkan tiket lotre, misalnya—gelombang emosi kebahagiaan yang dialami cenderung kembali ke asal, tidak berubah, atau tetap berada di tempat dan menjadi stabil dari waktu ke waktu. 

Fenomena ini biasa dikenal sebagai adaptasi hedonis, merupakan sebuah konsep psikologis untuk menggambarkan bagaimana orang cenderung beradaptasi dengan peristiwa baik dan buruk. Kemudian, kembali ke tingkat dasar kebahagiaan yang sama.

Adaptasi juga biasa dikenal dengan sebutan hedonic treadmill, karena seseorang selalu berakhir di tempat awal mula saat memulai. 

Lalu, apa sebenarnya adaptasi hedonis itu?

Apa Itu Adaptasi Hedonis?

Adaptasi hedonis adalah bagian dari kemampuan manusia untuk terus menerus menyesuaikan dengan keadaan. Euforia menghilang, kemarahan padam, bahkan ketika mengalami kesedihan, pada akhirnya perasaan itu akan surut. 

Artinya, meskipun efek hari ke hari dari peristiwa besar terus berlanjut, emosi seseorang pada akhirnya akan kembali menjadi seimbang. Seseorang mengalami hedonic treadmill ketika ingin mengejar tujuan, harapan, dan keinginan lain. 

Untuk satu hal, definisi “kebahagiaan” sendiri sangat kabur, seperti halnya definisi kesejahteraan, sehingga sulit untuk membandingkan hubungan antara studi dan manusia pada konteks ini. 

Banyak studi telah dilakukan melalui survei, wawancara, skala subjektif untuk menghitung kebahagiaan dari sisi pribadi individu. Hasil ini malah lebih menjadi interpretasi dari masing-masing individu. 

Para peneliti juga menunjukkan bahwasanya beberapa pengalaman hidup memang cenderung mendorong perubahan kondisi emosional seumur hidup. 

Sebagai contoh; secara umum, orang yang menikah cenderung lebih bahagia daripada mereka yang tidak menikah. Orang bercerai cenderung kurang bahagia untuk waktu lama sesudahnya.

Kesenangan atau hilangnya kesenangan dapat menyebabkan perubahan jangka panjang (bahkan mungkin permanen) dalam kebahagiaan pribadi. 

Mengapa beberapa peristiwa lebih rentan terhadap adaptasi hedonis?

Apa Itu Adaptasi Hedonis?

Terdapat beberapa hal menyebabkan terjadinya adaptasi hedonis. Pertama, yaitu pengalaman sensorik—pengalaman dengan melibatkan fisik dan emosional intens cenderung kurang bertahan lama ketimbang kepuasan lainnya. 

Suatu hal baru juga termasuk, seperti ketika seseorang pindah ke tempat baru, pekerjaan baru, dan lain sebagainya. Ketika seseorang sudah mulai terbiasa dengan situasi baru, perasaan itu perlahan-lahan akan mereda. 

Faktor lainnya adalah ketika seseorang membandingkan dirinya terhadap orang lain dalam mencari kebahagiaan. Sebuah studi menunjukkan ketika seseorang mengejar sesuatu karena orang lain memiliki hal tersebut, kebahagiaan itu akan menghilang dengan cepat. 

Namun sebaliknya, ketika seseorang menginginkan suatu hal karena itu berasa dari diri sendiri, kebahagiaan itu cenderung akan bertahan lama. 

Pada 2015, para peneliti menganalisis dan membandingkan hasil dari tujuh studi berbeda. Hasilnya, mereka menemukan ketika seseorang mengasosiasikan nilai sentimental dengan suatu peristiwa, perasaan bahagia itu tetap lebih konstan dari waktu ke waktu. 

Beberapa cara untuk membatasi efek adaptasi hedonis

Apa Itu Adaptasi Hedonis?

  • Mempraktekkan mindfulness (kesadaran diri)

Mindfulness merupakan salah satu jenis meditasi untuk membantu seseorang dalam meningkatkan perasaan sejahtera dan positif. 

Mindfulness dapat membantu seseorang dalam menenangkan pikiran melalui latihan pernapasan. Selain itu, mindfulness juga membantu seseorang untuk terfokus kepada ‘saat ini’ dengan cara memperhatikan apa yang terjadi di sekitar dan pada tubuh seseorang. 

Sebuah studi oleh US National Library of Medicine and National Institutes of Health menemukan bahwasanya mindfulness dapat meningkatkan kapasitas kebahagiaan hedonis pada orang dengan nyeri kronis. 

  • Berubah menjadi lebih baik

Rasa kesejahteraan seseorang terhubung dengan pengembangan pada kepribadian. Menurut penelitian, seseorang bisa menciptakan rasa kepuasan yang bertahan lama dengan cara:

  1. Menggapai tujuan pribadi dalam hidup 
  2. Membayangkan masa depan yang positif
  3. Melakukan aktifitas yang menempatkan diri dalam kondisi mengalir seperti berolahraga, bermain musik, atau di mana pun untuk mengembangkan kemampuan. 
  • Mengekspresikan rasa syukur

Manusia memiliki keunikan masing-masing ketika mendapatkan kesenangan dari mengingat pengalaman bahagia di masa lampau.

Para peneliti menemukan dengan mengungkapkan rasa syukur secara sengaja mengungkapkan rasa terima kasih ketika mengalami pengalaman positif, dikaitkan dengan memiliki kapasitas kebahagiaan lebih besar. 

Selain itu, bersyukur juga dapat memperlambat adaptasi hedonis dengan terus merenungkan dan menghargai sebuah peristiwa dan keadaan pada hidup. 

  • Berinvestasi dalam hubungan

Sebuah studi dengan partisipan berasal dari 142 negara dan berlangsung selama beberapa dekade menunjukkan bahwasanya hubungan sebagai kunci kebahagiaan jangka panjang. 

Tentunya, setiap orang memiliki pendapat berbeda dalam menetapkan orang di dalam kehidupan, atau jumlah waktu yang ingin dihabiskan saat sedang berhubungan sosial. 

Namun, menurut studi dirilis oleh National Library of Medicine orang paling bahagia adalah mereka dengan hubungan suportif, dan hidup dalam kebudayaan di mana terdapat sumber daya sosial yang berkembang dengan baik untuk diandalkan. 

  • Terlibat dalam tindakan pelayanan tanpa pamrih terhadap orang lain 

Rilisan studi pada Juni 2020 menunjukkan bahwasanya dengan terlibat dalam kegiatan prososial dapat meningkatkan kapasitas kebahagiaan dalam jangka panjang. 

Selain itu, para peneliti telah memastikan kebahagiaan lebih cenderung berfluktuasi jika datang dari pengejaran di mana itu berpusat pada diri sendiri, dibandingkan dengan kesenangan dari melakukan sesuatu tanpa pamrih. 

Para peneliti menyebut kondisi ini dengan “kebahagiaan sejati dan abadi” dengan mengatakan hal ini mengarah kepada “kepuasan dan kedamaian dalam batin”. 


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!

Baca Juga  Ini Bedanya Rasa Cemas dan Takut Serta Dampaknya Bagi Kesehatan Tubuh!

Audy

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals