Mengenal Kodependen pada Anak yang Mempengaruhi Komunikasi


Anak-anak selalu mengandalkan orang tua untuk mendapatkan dukungan emosional dan bagaimana cara bertindak ketika menghadapi sebuah masalah. Akan tetapi, tidak semua anak beruntung memiliki orang tua yang suportif. Tentu mengenal kodependen pada anak itu penting.

Ketika hubungan antara orang tua dan anak tidak sehat, hal itu dapat mempengaruhi cara seorang anak berinteraksi dengan orang lain ketika dewasa.

Biasanya, hal ini terjadi dalam hubungan kodependen, ketika orang tua mengajarkan anaknya bahwasanya mereka membutuhkan orang lain untuk memvalidasi pikiran, emosi, dan perilaku mereka. Hal ini diungkapkan oleh Kristie Overstreet, seorang psikoterapis pada laman Insider.

Ketika orang tua tidak pernah mengakui jikalau mereka salah, menggunakan perilaku pasif-agresif untuk mendisiplinkan anak, atau tidak memperbolehkan anak untuk mengambil keputusan, hal ini akan menggiring anak untuk mencari jenis ketergantungan serupa pada hubungan orang dewasa, baik dalam hubungan romantis atau pun platonis.

Saat seseorang menggunakan perilaku pasif-agresif ketika sedang kesal, meminta bantuan orang tua untuk menyelesaikan situasi stress, atau memiliki kecemasan ekstrim saat ingin mengambil keputusan, bisa menjadi indikasi mereka memiliki hubungan kodependen di masa kecilnya, kata Kristie.

Tanda-tanda seseorang memiliki asuhan kodependen dalam suatu hubungan

Apa itu Kopenden?

  1. Seseorang menjadi cemas berlebihan ketika mengambil sebuah keputusan

Membuat keputusan bukanlah hal mudah. Namun, ketika seseorang menjadi cemas dan khawatir setiap ditugaskan untuk mengambil keputusan, bisa menjadi tanda bahwasanya mereka diasuh untuk menjadi seorang kodependen.

Banyak orang menjadi cemas dan membutuhkan persetujuan orang lain bagi mereka dengan isu kodependen ungkap Kristie. Mereka selalu merasa tidak lebih baik karena mereka biasa ‘diputuskan’ oleh orang tua semasa kecil.

  1. Ketika sedangk kesal, lebih memilih untuk menghindar dan menggunakan silent treatment

Orang tua dengan pola asuh kodependen sering menggunakan perilaku pasif-agresif seperti memutarkan bola mata, menghindar/pergi, atau memberikan silent treatment kepada anaknya ketika sedang kesal.

Jika hal ini sering terjadi, maka anak akan menggunakan perilaku ini. Secara otomatis, mereka sudah merasa dewasa sedari kecil, karena tidak diajarkan berkomunikasi perasaan sedih atau frustasi.

  1. Meminta bantuan orang tua agar bisa pergi dari situasi stres

Merupakan hal normal ketika orang tua membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah (PR), memasakkan makanan, dan lain sebagiannya.

Namun, ketika orang memberikan bantuan saat tidak diminta, hal ini dapat menghambat perkembangan anak untuk menjadi lebih mandiri. Ketika orang tua melakukan hal seperti ini secara berkelanjutan, akan berdampak buruk bagi anak, berdasarkan penjelasan Kristie.

  1. Menempatkan kebutuhan keluarga atau teman di atas kebutuhan pribadi

Orang dewasa dengan sifat kodependen juga biasanya akan mengabaikan tujuan dan keinginan mereka sendiri. Karena, mereka hanya dapat melihat hal itu dari orang lain.

Baca Juga  6 Gaya Pacaran Zodiak untuk Mengenal si Dia Lebih Dalam (Part 2)
Baca Juga  Penyesalan Hidup Tidak Selamanya Buruk, ini Alasannya!

Sebagai contoh, Kristie mengungkapakn ketika orang tua kodependen menanyakan anaknya kapan mereka menikah/memiliki anak. Meski orang dewasa merasa belum siap untuk memiliki anak, bukan berarti mereka harus terus merasa tertekan. Nah jadi sudah lebih mengenal kodependen pada anak, kan?


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Audy

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals