0

Apa itu FOMO? FOMO merupakan sebuah istilah dari fear of missing out, adalah sebuah fenomena merujuk ke perasaan atau persepsi bahwa orang lain memiliki kehidupan lebih baik ketimbang kehidupan sendiri. 

Hal ini menjadi sebuah fenomena karena FOMO menjadi sebuah kejadian umum di masyarakat dan dapat menyebabkan stress secara signifikan pada kehidupan seseorang. Biasanya, FOMO diperburuk dengan unggahan-unggahan di media sosial seperti Instagram dan Facebook. 

Fenomena FOMO menyebabkan seseorang menjadi cemburu dan memiliki efek pada kepercayaan diri. FOMO tidak hanya tentang bagaimana seseorang menganggap kehidupan orang lebih baik daripada kehidupannya, tetapi juga mencakup momen ketika seseorang merasa melewatkan sesuatu yang pada dasarnya penting dan sedang dialami oleh orang lain.

Penelitian mengenai FOMO

FOMO Peningkatan Stress

Setelah semakin banyak penelitian atau pun studi mengenai FOMO, jadi apa itu FOMO? Semakin jelas mengenai FOMO dengan gambaran dan efek yang ditimbulkan melalui beberapa perantara.

  • Situs jejaring sosial

Para remaja pengguna media sosial dan menggunakannya dalam waktu lama lebih mungkin untuk mengalami FOMO. Menariknya, FOMO bertindak sebagai sebuah mekanisme pemicu penggunaan jejaring media sosial lebih tinggi. 

Sebuah studi dirilis oleh ScienceDirect menyebutkan, remaja  perempuan pengidap depresi cenderung lebih sering menggunakan situs jejaring sosial. Sedangkan, bagi remaja laki-laki, kecemasan adalah pemicu penggunaan media sosial. 

Hal ini menunjukkan bahwasanya penggunaan media sosial mengarah ke tingkat stres lebih tinggi, disebabkan oleh FOMO.

  • FOMO, umur, dan gender

Menurut beberapa studi, FOMO bisa dialami oleh semua orang tanpa memandang umur. Sebuah studi dirilis oleh ScienceDirect  menemukan fenomena fear of missing out ini berkaitan dengan penggunaan smartphone dan media sosial, namun tidak memiliki kaitan dengan umur dan gender. 

Studi tersebut juga menemukan bahwa penggunaan smartphone dan media sosial berlebihan dikaitkan dengan pengalaman FOMO. Penggunaan smartphone terkait dengan ketakutan akan evaluasi negatif dan positif oleh orang lain serta terkait efek negatif terhadap suasana hati. 

  • Peringkat kepuasan dalam hidup

Sebuah studi rilisan jurnal Computers and Human Behaviour menemukan bahwa beberapa tren memiliki kaitan terhadap FOMO. Dalam studi tersebut menghasilkan bahwa FOMO diasosiasikan dengan kepuasan kebutuhan hidup rendah, suasana hati, serta kepuasan hidup. 

Selain itu, FOMO juga berkaitan erat dengan tingkat penggunaan media sosial yang tinggi. FOMO menyebabkan seseorang merasa perlu terlibat dalam media sosial dan meningkatkan keterlibatan tersebut. 

  • Bahaya potensial dari FOMO

Selain meningkatkan perasaan tidak bahagia, fear of missing out menyebabkan pengidapnya harus ikut dalam keterlibatan lebih besar dalam perilaku tidak sehat. 

Beberapa tips untuk meminimalisir FOMO

FOMO Peningkatan Stress

  • Ubah fokus

Daripada berfokus ke hal-hal tidak dipunya, cobalah untuk menghargai apa yang sudah dipunya. Beberapa hal bisa dilakukan untuk bersyukur dengan apa yang telah ada yaitu, dengan mengikuti akun-akun positif di media sosial. 

Hal ini dilakukan untuk menghindari pemicu dari FOMO, dan menjadikan diri sendiri menjadi seseorang penuh syukur. 

  • Membuat sebuah jurnal harian

Merupakan hal lumrah untuk mengunggah hal-hal menyenangkan pada akun media sosial. Akan tetapi, hal ini akan menimbulkan pertanyaan tentang apakah orang-orang melakukan validasi terhadap hal yang sedang dialami secara online. 

Membuat jurnal membantu seseorang untuk mengalihkan fokusnya dari perasaan ingin divalidasi secara publik menjadi apresiasi pribadi terhadap hal-hal hebat dalam hidup. Perubahan pola ini dapat membantu seseorang untuk keluar dari fenomena FOMO. 

  • Cari koneksi ‘nyata’

Koneksi nyata tidak akan ditemukan dalam koneksi dari media sosial, keterlibatan media sosial tidak selalu menjadi cara untuk mencapai hal ini.

Menambah koneksi teman merupakan hal bagus, terlebih ketika sedang merasa depresi dan cemas. Rilisan studi oleh APA PsycNet mengatakan bahwa perasaan kesepian itu pertanda dari otak menemukan koneksi baru untuk meningkatkan perasaan memiliki. 

Ketimbang menambah koneksi dengan orang lain melalui media sosial, membuat sebuah rencana berkumpul dan bertemu dengan seseorang secara langsung bisa menjadi alternatif bagus.

Bertemu teman atau melakukan kegiatan sosial lainnya membuat seseorang lebih terfokus pada dunia nyata, sehingga perasaan FOMO itu menjadi rendah. 

Namun, jika tidak memiliki waktu untuk melakukan itu semua, cara lain bisa dilakukan yaitu dengan mengirimkan pesan pribadi ke teman, daripada mengunggah sesuatu untuk mendapatkan sebuah validasi dalam bentuk “likes”. 

  • Fokus pada rasa syukur

Sebuah studi oleh Frontiers in Psychology menemukan dengan melakukan hal untuk mengungkapkan rasa syukur, seperti membuat sebuah jurnal atau mengapresiasi keberadaan seseorang dapat meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. 

Ketika berfokus kepada suatu hal telah dimiliki, hal ini memberikan efek positif pada diri seseorang, ketimbang harus fokus ke hal yang tidak dimiliki. 

Nah kaena sudah tahu apa itu FOMO, apakah kamu termasuk atau tidak nih? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya.

Baca Juga  Kamar Berantakan Berkaitan dengan Kesehatan Mental? Ini Penjelasannya!

Baca Juga  Berkegiatan Menghadapi Tantangan: Cara untuk Menerapkan Perubahan

Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Like it? Share with your friends!

0
Audy

error: Maaf ya
Choose A Format
Format Berita
Beritakan informasi Pop Culture dan Lifestyle terkini di sini!