Apa itu Toxic Positivity? Mengutip dari laman very well mind, toxic positivity merupakan kepercayaan meskipun seburuk atau sesulit apapun sebuah kondisi, seseorang harus bisa selalu berpikiran positif. 

Meskipun terdapat beberapa hal bisa didapatkan dengan berpikir optimis dan berpikiran positif, toxic positivity memaksa seseorang untuk menolak perasaan negatif dan harus selalu bersikap ceria. 

Memancarkan aura positif memang bagus untuk kehidupan dan kesejahteraan mental. Namun masalahnya adalah, kehidupan tidak hanya tentang hal-hal positif, semua orang mengalami perasaan dan pengalaman yang menyedihkan. 

Semua perasaan sedih itu terkadang harus bisa diterima dan dirasakan. Namun toxic positivity mengharuskan seseorang untuk terus berpikiran positif pada hal apapun itu secara ekstrim. 

Mengutip dari laman healthline, toxic positivity memandang emosi negatif sebagai hal buruk. Sebaliknya, kepositifan dan kebahagiaan didorong secara kompulsif, sehingga menyebabkan pengalaman emosional yang otentik ditolak, diminimalkan, atau tidak diterima. 

Tanda-tanda dari toxic positivity

Apa Itu Toxic Positivity?

Terdapat beberapa tanda dari toxic positivity, mengutip dari laman The Psychology Group:

  1. Menyembunyikan emosi/perasaan yang sedang dirasakan. 
  2. Mencoba untuk “berjalan beriringan” pada sebuah kondisi, dengan cara tidak menghiraukan perasaan negatif tersebut.
  3. Merasa bersalah telah merasakan perasaan yang sedang dialami. 
  4. Meminimalisir perasaan negatif dengan menggunakan kutipan atau pernyataan positif untuk “merasa positif”.
  5. Mencoba untuk memberikan perspektif (contoh: menyatakan suatu kondisi bisa saja menjadi lebih buruk) ketimbang memvalidasi pengalaman emosional yang sedang dirasakan. 
  6. Menyalahkan seseorang karena mengekspresikan rasa frustasi ketimbang bersikap positif. 
  7. Mencoba menenangkan diri ketika sedang menghadapi emosi negatif dengan kalimat “apa yang terjadi, terjadilah”.

Contoh-contoh dari toxic positivity

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Beberapa contoh dari toxic positivity dalam kehidupan, seperti:

  • Ketika terjadi suatu hal buruk, seperti kehilangan pekerjaan dan seseorang mengatakan “tenang aja, santai” atau “lihat dari sisi baiknya”. Ketika omongan-omongan ini bisa jadi bentuk sebagai rasa simpatik, hal ini bisa menjadi cara bagi seseorang untuk menutup apapun yang mungkin ingin dikatakan atau dialami. 
  • Setelah mengalami kehilangan, seseorang mengatakan “setiap kejadian itu terjadi karena sebuah alasan”. Ketika seseorang menyampaikan kalimat ini karena percaya itu adalah bentuk untuk menghibur, itu juga merupakan cara untuk menghindari perasaan sakit. 
  • Ketika sedang mengekspresikan rasa kekecewaan atau kesedihan, seseorang mengatakan “kebahagiaan merupakan sebuah pilihan”. Ini menyarankan ketika sedang mengalami emosi negatif, itu merupakan sebuah pilihan dan sebuah kesalahan ketika tidak memilih untuk bersikap bahagia. 

Beberapa contoh kalimat di atas sebenarnya memiliki tujuan baik, namun berbahaya. Pernyataan di atas bagaikan pisau bermata dua. 

Pada kondisi terbaik, pernyataan-pernyataan seperti itu terkesan seperti basa-basi, dan membuat seseorang merasa tidak perlu berurusan dengan perasaan orang lain setelah menyampaikan hal tersebut. 

Namun, di kondisi buruk, pernyataan ini berakhir dengan mempermalukan dan menyalahkan orang-orang yang sering atau sedang menghadapi situasi sulit. 

Mengapa toxic positivity itu berbahaya?

Apa Itu Toxic Positivity?

Pada beberapa kondisi, toxic positivity bisa menjadi berbahaya bagi orang-orang dengan atau sedang menghadapi kondisi sulit. 

Alih-alih berbagi emosi manusia dan mendapat dukungan tanpa syarat, orang-orang akan menemukan perasaan mereka diabaikan, dihindari, atau tidak diakui. 

Terlebih di masa pandemi seperti saat ini, menurut Dr. Jamie Long, seorang psikolog, dari laman healthline mengatakan kondisi pandemi memicu orang-orang untuk mengendalikan dan menghindari ketidakpastian.

Hasilnya, dengan suatu hal tidak pasti dan tidak dapat diprediksi ini, akan ada reaksi spontan untuk berpikir positif dan optimis menjadi pilihan untuk menghindari atau menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. 

Berikut ini beberapa alasan mengapa toxic positivity itu berbahaya:

  • Hal itu keliru. Ketika seseorang sedang berjuang, mereka perlu tahu perasaan mereka itu begitu adanya. Namun, toxic positivity menyebabkan seseorang merasa apa yang sedang mereka rasakan itu salah. 
  • Menyebabkan perasaan bersalah. Hal itu berarti meskipun dalam kondisi tragedi sekalipun, ketika seseorang tidak bisa menemukan alasan untuk bersyukur atau berpikir positif, itu merupakan suatu hal yang salah. 
  • Menghindari seseorang untuk merasakan perasaan emosi yang otentik. Toxic positivity memiliki fungsi sebagai mekanisme penghindaran. Hal ini menyebabkan seseorang menghindari kondisi emosional yang menyebabkan perasaan tidak nyaman, sehingga pada akhirnya, seseorang memilih untuk menghindari perasaan tersebut. 
  • Menghambat pertumbuhan untuk berkembang sebagai individu. Toxic positivity memang menyebabkan seseorang menghindari perasaan menyakitkan. Namun, dibalik itu, juga menyebabkan seseorang untuk berani menghadapi tantangan dimana hal itu bisa mengarah ke perkembangan dan wawasan lebih dalam. 

Lalu, bagaimana cara untuk menangani toxic positivity?

Apa Itu Toxic Positivity?

  • Hindari menolak dan mengabaikan emosi negatif

Terima semua perasaan, rasakan semua perasaan baik positif maupun negatif. Menghindari perasaan-perasaan tertentu hanya akan memperpanjang ketidaknyamanan. 

Alih-alih, perasaan tidak nyaman itu bisa dituangkan melalui tulisan. Rilisan studi oleh University of California menyebutkan dengan menuliskan apa yang sedang dirasakan bisa mengurangi intensitas emosi seperti perasaan sedih, marah, atau menyakitkan. 

  • Realistis

Ketika seseorang sedang menghadapi situasi membuat stres, bersikap stres, khawatir, dan takut merupakan hal wajar. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Fokus dengan diri sendiri dan ambil langkah berikutnya bisa membantu memperbaiki kondisi yang ada. 

  • Tak apa untuk merasa sedang tidak apa-apa

Menurut Dr. Jamie Long, dari laman healthline mengatakan, ketika sedang merasa lelah, biarkan diri beristirahat atau melakukan sesuatu yang tidak sempurna. Bebaskan diri dari rasa bersalah.

  • Mengenal kalimat-kalimat mengandung toxic positivity

Perlu diingat bahwa toxic positivity merupakan sebuah kondisi dimana seseorang mengabaikan emosi lain selain emosi positif. Menurut Long, ketika sebuah kutipan atau kalimat mengatakan bahwa dengan bersikap positif merupakan satu-satunya cara untuk pergi dari kondisi tidak menyenangkan, itu merupakan sebuah masalah. 

Nah sekarang kamu sudah tahu apa itu toxic positivity, jadi mari kita berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya, ya.


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Audy

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals