Kekuatan mental (mental strength) dan kesehatan mental (health mental) seringkali dianggap sama, meskipun pada kenyataannya dua hal ini saling berkaitan, namun memiliki makna berbeda

Mengutip dari laman MentalHealth.gov, kesehatan mental termasuk kondisi emosional, psikologis, dan kesejahteraan sosial. Kesehatan mental memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan bagaimana cara seseorang merespon suatu kondisi. 

Selain itu, kesehatan mental berkaitan dengan bagaimana cara seseorang dalam mengendalikan stres, berinteraksi dengan orang lain, dan membuat sebuah pilihan. 

Sedangkan kekuatan mental mengutip dari laman Pinkvilla merupakan kemampuan dari seseorang dalam menangani situasi sulit. 

Banyak kamus mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi “tidak memiliki penyakit mental”. Namun, dengan tidak memiliki gangguan depresi, kecemasan, atau penyakit mental lainnya tidak berarti seseorang kuat secara mental. 

Faktanya, seseorang dapat bermental kuat meskipun memiliki isu pada kesehatan mental. Kekuatan mental termasuk bagaimana cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. 

Perbedaan kekuatan dan kesehatan mental

Perbedaan Kekuatan dan Kesehatan Mental

Perbedaan kekuatan dan kesehatan mental akan lebih mudah untuk dipahami, ketika membandingkannya antara kesehatan psikis dan kekuatan psikis. 

Sebagai contoh, berolahraga membuat seseorang sehat secara fisik. Namun, hal itu bukan berarti seorang individu tidak memiliki kesehatan psikis, seperti kolesterol tinggi. 

Latihan ataupun kegiatan untuk membangun kekuatan mental dapat meningkatkan kesehatan mental. Ketika kesehatan mental menjadi lebih baik, akan lebih mudah untuk tumbuh kuat secara mental. 

Hal-hal terkait kekuatan mental

  • Kemampuan menangani emosi negatif menggunakan cara yang sehat. 
  • Dapat memahami emosi dalam diri. 
  • Tahu kapan harus terlibat dalam emosi dan kapan harus mundur.

Hal-hal terkait kesehatan mental

  • Kehadiran atau ketiadaan dari isu kesehatan mental. 
  • Kondisi atau keadaan kesehatan mental secara keseluruhan. 

Tiga basis dari kekuatan mental

Perbedaan Kekuatan dan Kesehatan Mental

Menurut Amy Morin, seorang psikoterapis sekaligus penulis dari buku 13 Things Mentally Strong People Don’t Do, terdapat tiga cabang pendekatan dari kekuatan mental, yaitu:

  1. Berpikir. Hal ini termasuk bagaimana seseorang mampu dan bisa mengidentifikasi pikiran-pikiran irasional dan menggantinya dengan pemikiran lebih rasional. 
  2. Berperilaku. Dalam arti, seseorang dapat bersikap atau berperilaku secara positif terlepas dari keadaan apapun. 
  3. Bereaksi. Maksudnya adalah, seseorang mampu menangani dan mengontrol perasaan, reaksi yang dirasakan. Bukannya malah sebaliknya. 

Hal-hal orang bermental kuat tidak lakukan

Perbedaan Kekuatan dan Kesehatan Mental

Beberapa hal di bawah ini merupakan kebiasaan atau perilaku orang bermental kuat tidak lakukan, menurut Morin, yaitu: 

  • Tidak membuang waktu untuk merasa bersalah dengan diri sendiri

Merasa bersalah terkait hal lalu itu membuang waktu, menciptakan emosi-emosi negatif, dan memiliki efek negatif dalam hubungan. 

Menurut Morin, mengasihani diri sendiri memiliki dampak merusak diri sendiri. Dengan mengasihani diri sendiri, itu dapat menghambat seseorang untuk menjalani hidup yang utuh. 

  • Tidak memberikan kekuatan secara cuma-cuma

Seringnya, seseorang akan memberikan kekuatannya ketika tidak memiliki batasan baik fisik maupun emosional. 

Ketika seorang individu membiarkan orang lain mengontrol dirinya, itu bagaikan membiarkan orang lain menentukan kesuksesan dan harga diri individu tersebut. 

Seperti contoh dalam bukunya, Morin menuliskan sebuah kisah dari Oprah Winfrey. Winfrey tumbuh dan hidup dalam lingkaran kemiskinan dan pelecehan seksual. 

Akan tetapi, Oprah tidak membiarkan masa kelamnya itu menjadi sebuah senjata bagi orang-orang untuk menyerangnya dan membuatnya menjadi seseorang yang lemah. 

Oprah memilih untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa membiarkan orang lain mendikte harus jadi apa dia, dan itu membuatnya tetap bisa kuat dan tegak berdiri dengan kakinya sendiri. 

  • Tidak malu untuk berubah

Dalam bukunya, Morin menuliskan alasan mengapa orang menghindar saat seharusnya mereka berubah. 

Banyak orang menghindar untuk berubah karena mereka merasa terlalu berisiko dan keluar dari zona nyaman ketika harus melakukan perubahan, meskipun perubahan itu memberikan dampak positif nantinya. 

Terdapat beberapa tipe perubahan, yaitu:

  1. Berubah atau tidak sama sekali. Beberapa kasus perubahan bersifat incremental, namun lainnya bersifat berubah semua, atau tidak sama sekali. Sebagai contoh, ketika pasangan memutuskan untuk memiliki momongan, hal itu akan membuat kehidupannya akan berubah untuk selamanya, dan tidak bisa diubah. 
  2. Berubah dalam kebiasaan. Seseorang bisa memilih apakah mereka ingin merubah kebiasaan buruknya, seperti tidur selalu larut malam, dan lain sebagainya. 
  3. Mencoba suatu hal baru untuk berubah. Terkadang perubahan termasuk dengan mencoba melakukan hal baru, seperti menjadi relawan, dan lain sebagainya. 
  4. Perubahan perilaku. Ada beberapa perubahan perilaku tidak termasuk ke dalam kebiasaan. Seperti contoh, ketika seseorang ingin bersikap lebih ramah ke orang lain. 
  5. Perubahan emosional. Tidak semua perubahan itu berwujud, contohnya emosi.
  6. Perubahan kognitif. Terdapat beberapa cara dimana seseorang ingin mengubah cara atau pola berpikir.

Dalam bukunya, Morin juga menyebutkan terdapat lima tahap perubahan, yaitu:

pre-contemplation, contemplation, preparation, action, dan maintenance

Penting untuk bisa mengikuti semua tahap. Membuat suatu perubahan bisa menjadi suatu hal menakutkan, akan tetapi menghindari hal itu menghambat seseorang untuk berkembang. “Semakin lama menunggu, maka akan sulit untuk mendapatkannya” tulis Morin. 

  • Tidak berfokus pada hal tidak bisa dikontrol

Mencoba untuk mengontrol segala hal sama saja seperti memberi respon pada kecemasan. Morin mengungkapkan, lebih baik untuk seseorang fokus kepada perasaan cemas dan berusaha untuk mengontrolnya, ketimbang mencoba untuk mengontrol lingkungan sekitar. 

Dengan merubah fokus dari hal-hal tidak bisa dikontrol bisa meningkatkan perasaan bahagia, mengurangi stres, memiliki hubungan lebih baik, mendapat kesempatan baru, dan lain sebagainya. 

  • Tidak khawatir tentang persoalan harus menyenangkan semua orang

Menjadi seorang people pleaser di lain sisi memberikan dampak negatif. Seorang people pleaser beranggapan bahwa pandangan orang lain terhadap mereka itu di atas segala-galanya. 

Seorang people pleaser akan selalu berusaha menghindar dari konflik, agar tidak merasakan apa itu rasanya ditolak, atau kehilangan orang-orang di sekitarnya. 

Menjadi seorang people pleaser itu membuang waktu. Orang-orang tidak bertanggungjawab akan dengan mudahnya memanfaatkan atau memanipulasi seseorang people pleaser demi kepentingan pribadi.

Merupakan hal wajar untuk merasa kecewa dan marah, merupakan hal mustahil untuk membuat semua orang suka terhadap diri sendiri. 

Dengan melepaskan kebiasaan dan pola pikir sebagai seorang people pleaser akan memberi dampak positif, seperti menjadi lebih kuat dan lebih percaya diri. 

  • Tidak takut untuk mengambil risiko yang sudah diperhitungkan

Merupakan hal lumrah untuk menghadapi risiko dalam hidup, seperti kondisi finansial, psikis, emosional, sosial dan risiko lainnya. Banyak orang sengaja menghindari dari risiko, meskipun itu dapat membantu mereka berkembang dan menggapai potensi dalam diri. 

  • Tidak memikirkan masa lalu

Tidak jarang, seseorang memikirkan hal-hal lalu, dan sudah terjadi lama sekali. Memikirkan masa lalu dapat merusak diri sendiri, karena menghambat untuk menikmati waktu saat ini dan rencana di kemudian hari. 

Kejadian masa lalu, itu sudah terjadi di masa lalu, tidak bisa diubah. Namun, masa lalu dapat dijadikan sebuah refleksi dan dijadikan pembelajaran. 

  • Tidak membuat kesalahan sama berulang kali

Melakukan sebuah refleksi dapat membantu seseorang untuk tidak mengulangi kesalahan sama secara terus menerus. 

Penting untuk bisa belajar dari sebuah kesalahan, dengan cara menganalisis kesalahan tersebut, membuat rencana, dan mempraktikkan disiplin diri untuk memastikan kesalahan lalu tidak terulang kembali. 

Seseorang bermental kuat bisa bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat lalu belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi lebih kuat karena hal itu. 

  • Tidak merasa iri atas kesuksesan orang lain

Morin menyebutkan dengan berfokus pada kesuksesan orang lain menyebabkan seseorang bisa terdistraksi dari jalannya sendiri. Seseorang tidak akan pernah merasa puas—meskipun mereka berhasil— ketika terfokus dengan orang lain. 

  • Tidak menyerah setelah kegagalan pertama

Sukses tidak datang dalam semalam, dan kadang, kegagalan menjadi sebuah hambatan bagi seseorang untuk mencoba lagi, dan lagi. 

Berpikiran bahwa kegagalan itu tidak bisa diterima atau merasa tidak pernah cukup tidak merefleksikan karakteristik dari orang bermental kuat. Malah, dengan mencoba lagi setelah kegagalan dapat membuat seseorang menjadi lebih kuat. 

  • Tidak takut ketika sendiri

Menghabiskan waktu sendiri kemudian berdialog dan pikiran bisa menjadi pengalaman menakjubkan. Kekuatan mental mewajibkan seseorang untuk menyisihkan waktu dari kesibukan rutinitas harian untuk fokus berkembang. 

Menghabiskan waktu sendiri memiliki beberapa dampak positif, seperti meningkatkan rasa empati, menjadi lebih kreatif, dan bisa meningkatkan produktivitas. 

  • Tidak merasa bahwa dunia berhutang apapun 

Ketika seseorang memiliki pola pikir bahwa dunia telah berhutang sesuatu padanya, sesederhana karena siapa dia sebagai individu dan hal apa telah diperbuat, merupakan pola pikir yang tidak sehat. 

Kesuksesan perlu diraih. Kuncinya adalah fokus kepada upaya, selalu menerima kritik dan mengakui kekurangan pada diri sendiri. Melakukan perbandingan antara diri sendiri dengan kehidupan orang lain akan mengakibatkan kekecewaan. 

  • Tidak mengharapkan hasil instan

Ketika ingin menggapai potensi penuh dalam diri sendiri, perlu ada keinginan untuk mengembangkan ekspektasi realistis dan memahami bahwa kesuksesan itu tidak datang dalam semalam. 

Orang bermental lemah biasanya tidak sabaran, sedangkan segala sesuatu itu membutuhkan proses. Selama proses itu, akan ada kegagalan dihadapi, namun ketika telah mampu mengukur progres dan melihat dari gambaran lebih besar, kesuksesan itu bisa dicapai. 


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Audy

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals