Tidak bisa dihindarkan, manusia sebagai makhluk sosial selalu mencari validasi pribadi berdasarkan interaksinya dengan orang lain. Hal ini menjadi sebuah tolok ukur bagi seseorang untuk menemukan orang yang ‘mirip’ dengan dirinya.

Bukanlah sebuah kesalahan, ketika seseorang menginginkan rekan kerja yang sama karakteristiknya. Akan tetapi, pada kenyataannya, hal ini tidak selalu bisa didapatkan.

Terlalu banyak jenis karakteristik dari masing-masing manusia, dan pastinya tidak bisa selalu sejalan dengan apa yang diinginkan.

Orang yang sulit merupakan tipikal orang sering dijumpai di sekitaran — tukang pamer, tidak bertanggung jawab, membuat frustasi, suka menghilang — dan berbagai macam jenis karakter menyebalkan lainnya.

Dari laman Science of People, mereka mengkategorikan orang-orang sulit menjadi empat bagian:

  1. Downers. Tipikal orang selalu memiliki bahan untuk dijelek-jelekkan. Tipikal orang seperti ini mudah mengkomplain, mengkritik, ataupun menilai seseorang, membuat tipikal orang seperti ini sulit untuk bisa merasa puas.

  2. Better Thans. Merupakan tipe orang sulit kedua, yang selalu merasa tahu segalanya, dan suka pamer. Orang dengan tipe ini juga menjatuhkan dan membanding-bandingkan orang lain.

  3. Passive. Merupakan orang yang identik selalu menghilang ketika dibutuhkan, dan suka membebankan orang lain dengan tanggung jawab mereka.

  4. Thanks also. Adalah tipikal orang yang selalu bersikap bossy. Tipe orang seperti ini selalu ingin menjadi yang terdepan dan pendapatnya selalu didengar.

Pada tulisan Tech Tello tentang difficult people, berbagai macam strategi tidak bisa berguna tanpa memahami pola pikir diri sendiri. Oleh karena itu, penting untuk bersikap rasional, logis, serta kritis untuk menghindari pemikiran yang tidak seimbang.

Tips menghadapi orang yang sulit

  • Fokus pada solusi, bukan masalah

Pada tulisan di laman Entrepreneur, fokus ke masalah bukanlah sebuah pilihan tepat. Ketika seseorang hanya fokus ke masalahnya, semua itu hanya akan menciptakan dan memperpanjang emosi negatif dan stres.

Coba untuk fokus ke aksi, perbaiki diri sendiri menjadi lebih baik, sehingga akan memacu perasaan efikasi diri yang memproduksi perasaan positif dan mengurangi stres.

Uba pola pikir dari berfokus ke orang serta sifat sulitnya, menjadi bagaimana sebagai seorang individu harus bersikap saat berhadapan dengan orang-orang sulit. Hal ini memicu diri untuk menjadi lebih terkontrol dan mengurangi perasaan stres setiap berinteraksi bersama orang-orang sulit.

  • Pahami pola perilaku

Melabeli seseorang sebagai tipikal sulit untuk diajak kerja sama tidak membantu banyak. Ketika berhadapan dengan orang-orang yang sulit, jangan berfokus kepada orangnya, tapi fokus ke perilaku mereka.

Perhatikan hal menjadi pemantik orang-orang sulit berperilaku demikian. Usahakan untuk tidak terpancing emosi yang bisa menyebabkan tensi baru saat berhadapan dengan orang-orang yang sulit.

Memisahkan antara orang dan perilakunya akan membantu untuk mengidentifikasi kemampuan diri untuk menghadapinya serta menentukan aspek-aspek perilaku apa penyebab masalahnya.

  • Bicarakan langsung pada orangnya

Setelah mencoba memahami pola perilaku dan teridentifikasi sebagai penyebab atau pemantik dan kebiasaan buruk dari orang-orang sulit, coba untuk berdiskusi untuk menemukan solusi.

Terlepas bagaimana mereka memperlakukan orang lain, dengan menjadi seperti mereka — ikut berperilaku buruk dan menyulitkan keadaan — tidaklah menyelesaikan masalah.

Selain itu, bisa juga untuk meminta pendapat dari orang lain terkait masalah serupa. Dengan membicarakan hal ini kepada orang lain akan lebih membuka perspektif lama dan menemukan perspektif-perspektif baru untuk menghadapi orang-orang yang sulit.

Referensi: https://www.insider.com/ || https://www.psychologytoday.com/intl ||


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Audy

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals