Halo guys, kita jumpa lagi dalam artikel terbaru Yunoya Media. Kali ini saya hadir membawakan review Justice League Snyder Cut, sebuah film tim superhero DC yang sangat ditunggu kehadirannya.

Tak bisa dipungkiri, Justice League adalah film yang punya masalah serius di balik layar. Selama proses pengembangan sampai proses syuting, film ini digarap sutradara Zack Snyder.

Namun di tengah jalan, Snyder mundur karena berduka atas kematian putrinya yang bernama Autumn. Posisi Snyder pun akhirnya diambil alih Joss Whedon (The Avengers), yang kemudian membawa sejumlah perubahan hingga filmnya dirilis di bioskop.

Selebihnya, kita tahu versi bioskop berakhir mengecewakan. Kejadian ini akhirnya mendorong penggemar untuk terus menuntut Warner Bros. agar mau merilis justice league versi Snyder. Berawal dari dukungan yang masif ini, lahirlah Justice League Snyder Cut yang kini berjudul resmi Zack Snyder’s Justice League.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana sih kualitas yang ditawarkan Snyder Cut? Apakah filmnya sungguh pantas dibanjiri dukungan, sampai-sampai studio akhirnya “mengalah” dan mau merilisnya di layanan streaming HBO? Kalian bisa menemukan jawabannya dengan membaca review Justice League Snyder Cut berikut ini!

Plot Cerita

Justice League Snyder Cut

Berbekal durasi menembus 4 jam, Snyder seolah mendapatkan kebebasan penuh dalam membawakan kisah awal pembentukan tim superhero DC sampai akhirnya mereka bersatu.

Disini Snyder tak hanya fokus memperdalam cerita film dan memperluas dunia DC Extended Universe. Tapi juga mengeksplorasi para karakter penting, yang sebelumnya jadi salah satu kekurangan utama versi bioskop.

Yang tak kalah paling menarik, Snyder juga memberikan sentuhan drama emosional yang meningkatkan kualitas film ini secara signifikan. Bahkan Snyder juga menyuntikkan segudang detail penting, yang pada akhirnya sukses menutup beberapa kejanggalan cerita dalam versi bioskop.

Di atas segalanya, Snyder terlihat berambisi menghadirkan film superhero yang menyamai level keepikan Lord of the Rings. Di bagian-bagian tertentu, ambisi Snyder berbuah manis karena ia mampu memaksimalkan potensi cerita Justice League yang luas, dalam dan megah.

Namun di sisi lain, ambisi besar Snyder kadang justru melemahkan filmnya. Hal ini dikarenakan Snyder kurang lihai dalam mengatur jalan cerita dan menjaga tensi film. Akibat kekurangan Snyder ini, beberapa bagian ada yang terasa lamban, bertele-tele atau bahkan membosankan.

Lebih dari itu, muatan cerita dalam film ini juga terlalu banyak untuk dicerna, sehingga rawan menyebabkan penontonnya lelah. Kadang, saya sampai merasa Justice League Snyder Cut seperti dua atau tiga film yang digabung jadi satu, namun proses penggabungannya kurang mulus.

Bagaimanapun, di sisi lain, saya bisa memaklumi kenapa muatan cerita Justice League bisa jadi sebanyak ini. Alasannya, landasan cerita Justice League hanya bertumpu pada Man of Steel dan Batman v Superman (yang keduanya juga disutradarai Snyder), beda dengan cerita Avengers: Endgame yang bertumpu pada belasan film.

Karena kekurangan film pelengkap inilah, Snyder akhirnya menjejalkan setumpuk cerita yang ia punya ke dalam satu film, tanpa menyadari resiko dari tindakannya.

Namun patut diingat, ada satu hal yang perlu saya garis bawahi. Sebenarnya, muatan cerita yang terlalu banyak ini bukan masalah serius, selama kalian penasaran dan suka dengan visi Snyder yang sesungguhnya. Malah dengan muatan cerita sebanyak ini, saya tak kaget jika ada yang sangat puas dengan Snyder Cut.

Karakter

justice league snyder cut

Kalau durasi ekstra Snyder Cut bisa menguatkan sekaligus melemahkan cerita, maka lain halnya dengan sektor pengembangan karakter yang sepenuhnya tampil gemilang. Bagaimana tidak, disini setiap karakter mendapatkan perhatian yang setara, sehingga mereka bisa meninggalkan kesan kuat.

Sebagai permulaan, ada perubahan karakter Batman yang tadinya sinis menjadi optimistis, sejak terinspirasi oleh pengorbanan Superman. Tak seperti versi bioskop, proses evolusi karakter Batman diperlihatkan dengan cukup detail, sehingga perubahannya jadi terasa masuk akal.

Selanjutnya, ada dua karakter yang paling berkembang signifikan, yaitu Cyborg dan The Flash. Di versi bioskop, karakter dua superhero muda ini terasa dangkal gara-gara adegan mereka banyak yang dihapus.

Namun di Snyder Cut, semua adegan itu ditampilkan. Alhasil, akhirnya mereka bisa membuat kita terpikat. Selain menambah porsi adegan action sekaligus peran dalam cerita, Snyder Cut juga mengulik lebih jauh kehidupan pribadi Cyborg dan The Flash.

Dan khusus untuk Cyborg, kisahnya sebagai manusia setengah robot yang punya hubungan rumit dengan ayahnya jadi salah satu bagian paling emosional di film.

Oh ya, villain utama yaitu Steppenwolf juga tak mau ketinggalan nih. Selain penampilannya yang dirombak jadi lebih menyeramkan, disini Steppenwolf juga memiliki motif kejahatan yang jauh lebih jelas. Bahkan ada adegan yang menunjukkan sisi manusiawi Steppenwolf yang membuat karakternya lebih matang.

Adapun kekuatan Steppenwolf juga diekspos secara maksimal, sehingga ia jadi terkesan lebih kuat dan mematikan dari versi bioskop. Intinya, jika di versi bioskop Steppenwolf tampil menggelikan dan gampang dilupakan, di Snyder Cut ia menjelma jadi ancaman serius yang tak boleh diremehkan.

Sementara itu, Snyder Cut juga bisa lebih mengeksplor dinamika tim superhero DC. Disini mereka tak hanya saling bertukar pikiran dan bahu-membahu saat beraksi, tetapi juga saling peduli satu sama lain.

Lalu meski sempat ada percikan konflik, pada akhirnya mereka bisa tetap bersatu karena sudah memiliki ikatan yang kuat. Semua momen kekompakan ini membuat aksi gabungan para superhero DC jauh lebih berkesan dibanding versi bioskop.

Terakhir dan yang paling penting, kembalinya Superman disulap Snyder Cut menjadi momen yang epik, dramatis dan mengharukan. Momen intim Clark Kent bersama Louis Lane dan Martha Kent pun dikemas dengan cantik dan menyentuh hati.

Sayangnya, Snyder Cut masih menyia-nyiakan pesona J.K. Simmons sebagai Commissioner Gordon. Padahal jika perannya dibuat lebih besar, bukan mustahil Simmons akan mencuri perhatian dan tampil ikonik, seperti saat ia menjadi J.J. Jameson di film Spider-Man.

Konten

review justice league snyder cut

Snyder adalah sutradara yang jago membuat visual dan adegan action keren. Fakta ini pun kembali ia buktikan lewat sini dekat.

Berbagai citarasa visual dihadirkan snyder dalam film ini. Mulai dari yang menyejukkan mata, puitis, hingga yang sangat keren seperti video game.

Soal adegan action, jangan ditanya. Snyder membuat setiap adegan action terlihat memukau dan epik, bahkan beberapa diantaranya ada yang bikin melongo karena saking kerennya. Contohnya saja saat Batman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman dan Cyborg bekerjasama menjebol markas pertahanan Steppenwolf di sebuah kota kecil Rusia.

Dan yang paling bikin merinding, saat Superman berkostum hitam menghajar Steppenwolf habis-habisan, dengan serangan kombinasi pukulan dahsyat dan mata laser. Di momen ini Snyder seolah ingin menunjukkan, Superman bisa jadi superhero yang amat sangar saat ia mengamuk dan mengerahkan seluruh kekuatannya.

Musik yang sepenuhnya baru juga menjadi salah satu kelebihan Snyder Cut. Dengan sentuhan ajaib Junkie XL, musik pengiring sukses mewakili nuansa setiap adegan. Apalagi lagi dengan musik cadas yang sangat cocok buat aksi badass superhero DC.

Di sisi lain, komedi murahan dari versi bioskop (yang kemungkinan diciptakan oleh Whedon) dibabat habis di Snyder cut. Kalaupun ada komedi, maka itu hanya sekedar untuk mencairkan suasana dan tak pernah sampai mengganggu cerita.

Satu hal yang menarik disini, Snyder seolah mendengarkan kritik yang selama ini menyebut film superhero garapannya terlalu kelam, utamanya Batman v Superman.

Belajar dari pengalaman tersebut, disini Snyder berhasil menjaga filmnya agar jangan sampai terlalu kelam, tapi di sisi lain juga jangan sampai terlalu ceria atau ringan. Dan istimewanya lagi, ia juga menyuntikan pesan tentang keyakinan, harapan dan optimisme, yang membuat film superhero ini makin bermakna.

Kesimpulan

Justice League Snyder Cut

Melihat semua peningkatan signifikan di setiap sektor, saya akhirnya mengerti kenapa penggemar menganggap Whedon mencederai visi Snyder. Saya akhirnya juga mengerti kenapa penggemar tak pernah menyerah dalam menuntut perilisan Snyder Cut.

Karena memang tak bisa dipungkiri, Justice League racikan Joss Whedon adalah versi receh, sedangkan Justice League besutan Snyder adalah versi premium.

Okelah, durasi kepanjangan, cerita kebanyakan dan alur lamban beresiko membuat filmnya terasa melelahkan. Namun kekurangan ini berhasil ditebus Snyder dengan menghadirkan film superhero yang epik, dramatis dan spektakuler. Sebuah film yang pasti membuat Autumn si mendiang putri Snyder sangat bangga.

Skor untuk Justice League Snyder Cut: 8/10

Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Nova

Penyuka karakter antihero, dunia futuristik dan musik Taylor Swift.

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals