Kita adalah spesies yang membunuh walaupun tidak lapar. Kita adalah pemburu yang sesungguhnya. Tapi, katakanlah seperti pada film-film, manusia digambarkan sebagai korban paling menderita dari kehadiran hewan buas. Mungkin itu yang ingin di sampaikan Arif R. Winandar dalam komiknya yang berjudul Buas ini.

Seperti apakah ulasan kami terhadap komik ini? Simak yuk ulasan dari Yunoya Media!

Buas merupakan komik lain yang gue temukan di Webtoon Kanvas. Judulnya terkesan hambar tanpa slogan yang menjual. Tapi demikian, komik ini mempunyai potensi yang sama dengan komik lokal lainnya.

Terbukti saat membaca setiap panel komik ini, gue mendapatkan kejutan selayaknya menyaksikan film. Entah karna gue yang berlebihan atau memang alurnya membuat gue hanyut.

Buas secara garis besar mengisahkan para pemburu yang berniat menyelamatkan Desa mereka dari peraturan kerajaan. Latarnya gue yakin berada di masa kerajaan Nusantara. Mungkin Majapahit? Lanjut, mereka memburu seekor makhluk yang diberi nama Naga Belang.

Barangkali buat kalian yang pertama kali melihatnya, Naga Belang seperti perkawinan silang antar T-Rex dan Harimau. Cuma disebut “Naga”. Mungkin terlihat kocak tapi gue paham maksud dari Arif selaku kreatornya pasti lebih dari itu.

Di beberapa kebudayaan, Naga digambarkan dengan rupa dan sifat yang berbeda-beda. Dari peradaban Nordik sampai China Kuno, keragaman itu sepertinya dimanfaatkan oleh Arif untuk membangun versinya sendiri. Ya, Naga Belang adalah jenis baru tentang hewan mitologis ini. Mungkin memang kesannya tidak imajinatif, tapi cukup inovatif. Salut untuk yang satu ini.

Konflik dalam komik Buas tentu saja belum kompleks mengingat baru tiga bagian yang dirilis. Namun dari tiga inilah gue dapat membaca bagaimana jalan cerita yang mestinya singkat ini akan berakar memanjang. Karakter Saut dan Bhandra adalah kebalikan dari kedua karakter tersebut.

Mereka bertolak belakang, walau sejatinya memiliki satu visi. Formula ini cukup lumrah untuk menegaskan karakter satu dan karakter lainnya dalam berbagi cara pandang. Akibatnya kita dapat menebak dengan mudah jalan cerita di pertengahan komik ini berlangsung.

Untuk temponya gue merasa terkesan agak cepat. Tapi sejauh ini gue memaklumi Arif sendiri nampaknya cukup kebingungan mengurutkan setiap panel agar terlihat lambat. Ini hanya firasat gue aja kebetulan.

Bagian satu dan dua adalah bagian terbaik untuk membaca komik ini sembari bersantai-santai. Rupanya bagian tiga adalah yang kita tunggu, dan seperti biasa, rasa penasaran kita akan diaduk berkali-kali. Rupanya memang ada banyak cara untuk memperlambat jalan cerita yang terlanjur cepat di dua bagian awal. Kerja bagus, Thor!

Sampai di sini gue tetap pada pendirian gue di awal tulisan. Buas begitu pontesial jika ceritanya bergerak ke arah yang diharapkan. Gue juga berharap banyak pada jalan cerita Buas yang menurut gue lezat.

Itu dia ulasan kami untuk komik Buas. Komiknya bisa kalian baca di Webtoon Kanvas secara gratis. Apakah kamu setuju dengan ulasan kami? Berikan komentarmu dan bagikan, ya!


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Iqbal Pradana

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals