Dari awal melihat namanya komik Sangkong. Yang terlintas di benak gue adalah wujud seekor kera atau semacamnya. Ciri fisik dari karakter utama ini menarik. Tapi apakah akan semenarik ceritanya?

Berikut adalah ulasan komik Sangkong dari Yunoya Media.

Sangkong mungkin bukan komik fantasi pertama yang menghadirkan cerita alam lain ala-ala manga Jepang yang lebih dulu lepas landas. Namun kenyataannya, hal seperti ini patut diapresiasi mengingat genre-nya terbilang jarang di Indonesia.

Munaza, begitu yang tertera di akhir komik. Kreator yang satu ini memiliki potensi, itu bisa dilihat dari caranya meramu Sangkong secara pengemasan maupun isi dari produknya.

Sangkong barangkali merupakan gebrakan nyata untuk mendongkrak fantasi liar para komikus lokal yang tengah berupaya menggali kultur guna menemukan inspirasi terbaiknya. Boleh jadi Sangkong beranjak dari mitologi atau sebatas legenda Nusantara namun improvisasi ceritanya dimasak sedemikian rupa hingga begitu futuristik dan elegan.

Sebutan legenda atau julukan semacamnya menambah daya tarik tersendiri pada siapapun yang menyukai cerita sejenis. Gue katakan formula ini rentan memicu penasaran dan tentu akan memakan banyak cerita untuk merunut sejarah di dalamnya. Tapi gue yakin Munaza telah memikirkan hal itu. Kerja bagus!

Pada awal panel gue mendapati cerita lamban berisi banyak pertanyaan di awal mengenai siapa sebenarnya Sangkong ini. Sebenarnya gue telah mendapatkan itu di pertengahan panel di bagian prolog, namun tetap pada kenyataan gue belum mampu menerka siapa sebenarnya Sangkong ini? Bahkan hingga akhir.

Prolognya dibuat dengan rapi, ditambah dialognya hadir silih berganti membawa kesan heroik dan sangat mendramatisir situasi. Balon narator dan balon dialog karakter mudah untuk diikuti, serta bahasa yang tak banyak basa-basi.

Untuk bahasa gue mempunyai pandangan sendiri. Dalam bagian komik ini kalian akan menemukan suara hati dari karakter kita. Terlihat tanpa basa-basi padahal sedikit bermain dengan kata-kata. Agaknya menunjukan upaya substansial tapi tidak secara gamblang.

Munaza lebih suka memakai makna tersirat untuk mendefinisikan betapa kelamnya komik ini kepada kita. Sejujurnya gue baru menyadari intensitas komedinya jauh lebih padat dari sejak pertama kali komik ini dimulai.

Kualitas gambar sendiri tak perlu diragukan lagi. Baik pewarnaan maupun goresan dalam Sangkong mampu memukau mata kita. Salah satu gaya yang cukup menjanjikan. Demikian bila komik ini rilis dalam bentuk fisik, tentulah tak banyak cakap untuk membelinya.

Visualisasi elok serta pembangunan karakter mumpuni, layak kita berikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Hingga akan banyak komik serupa tapi tentu saja berbeda isi serta pengayaan gambar. Munaza cukup baik memamerkannya di Webtoon Canvas secara gratis.

Akhir kisah, gue puas akan isi dari Sangkong. Peralihan dari awal menuju konflik mendapatkan klimaks yang sangat baik. Akan sangat disayangkan jika Sangkong berhenti, padahal telah memiliki pondasi kuat semenjak prolongnya dimulai.

Komiknya bisa kalian baca di Webtoon Canvas. Dan jangan lupa ikuti seluruh jejaring sosialnya, nama tertera di akhir komik.

Dan itu dia ulasan kami untuk komik Sangkong. Apakah kamu setuju dengan ulasan kami? Berikan komentarmu dan bagikan, ya!


Ingin tahu informasi tentang Pop Culture dan Lifestyle lainnya? Cek terus Yunoya Media dan like fanpage Facebook Yunoya Media di sini, ya!


Iqbal Pradana

Kolom Komentar

error: Maaf ya
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals